Pemanasan global bukan lagi isu masa depan, tetapi kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Untuk merespons kondisi ini, berbagai pendekatan mulai dikembangkan, salah satunya melalui pendekatan berbasis alam (nature-based solutions). Pendekatan ini memanfaatkan kemampuan alami ekosistem dalam menyerap dan menyimpan karbon. Di wilayah pesisir, mangrove menjadi salah satu ekosistem yang menyimpan potensi besar dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon hingga tiga kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Karbon tidak hanya tersimpan pada bagian tubuh mangrove seperti akar, batang, dan daun, tetapi juga terakumulasi dalam jumlah sangat besar pada sedimen tempat mangrove tumbuh. Cadangan karbon yang tersimpan di dalam sedimen inilah yang menjadikan mangrove sebagai ekosistem kunci dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya di wilayah pesisir.
Untuk mengetahui besarnya cadangan karbon tersebut, Penjaga Pulau melakukan penelitian untuk mengetahui besaran cadangan karbon di Desa Labuhan Bajo, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Gambar 1) berkoordinasi dengan Kelompok Kabete Bajo. Di kawasan ini, sampel sedimen diambil pada beberapa titik yang masih berada dalam ekosistem mangrove dengan kondisi tutupan yang bervariasi.

Gambar 1. Lokasi pengambilan data
Pengambilan sampel sedimen dibagi berdasarkan kondisi lokasi yang ada, mulai dari area tambak, kerapatan hutan mangrove yang sedang, hingga kerapatan yang tinggi. Pengambilan data di dalam hutan mangrove menjadi tantangan tersendiri karena kondisi vegetasi yang padat dan akses yang sempit. Namun, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berharga dan menambah pengetahuan baru bagi Kelompok Kabete Bajo.

Gambar 2. Pengambilan data melewati mangrove yang padat
Pengambilan sampel sedimen diawali dengan membersihkan permukaan tanah dari sampah organik maupun anorganik agar tidak memengaruhi hasil analisis. Sampel kemudian diambil menggunakan Coring Open Face Auger hingga kedalaman 100 cm (Gambar 3). Pada beberapa titik, alat corer tidak selalu dapat mencapai kedalaman tersebut karena kondisi sedimen yang padat atau terhalang akar, sehingga pengambilan sampel perlu dipindahkan ke titik lain agar memperoleh hasil yang optimal.

Gambar 3. Pengambilan sampel sedimen
Sampel sedimen yang berhasil diambil selanjutnya dibagi ke dalam tiga lapisan kedalaman, yaitu 0–30 cm, 30–50 cm, dan 50–100 cm. Dari masing-masing lapisan, sampel tidak diambil secara keseluruhan, melainkan pada kedalaman representatif: 10–20 cm untuk lapisan 0–30 cm, 35–45 cm untuk lapisan 30–50 cm, serta 70–80 cm untuk lapisan 50–100 cm. Setiap sampel kemudian disimpan dalam zipper bag dan diberi label untuk memudahkan proses identifikasi dan analisis di laboratorium. Sampel tersebut kemudian diamankan di dalam coolbox (Gambar 4) agar tidak tercampur dengan air laut serta di dalamnya ditambahkan es batu supaya suhu sedimennya tetap terjaga sehingga mengurangi kecepatan pertumbuhan mikroorganisme yang mampu mengurai kandungan karbon.

Gambar 4. Sampel sedimen diamankan
Setelah seluruh data lapangan terkumpul, sampel sedimen dianalisis di laboratorium untuk menghitung nilai bulk density dan juga kandungan karbon organik dengan metode Walkey & Black. Nilai ini selanjutnya digunakan dalam perhitungan cadangan karbon sedimen yang dikonversi ke dalam satuan ton karbon per hektare (C ton/ha).
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi cadangan karbon pada masing-masing stasiun 1, 2, dan 3 berturut-turut bernilai 4.948 C ton/ha, 4.574 C ton/ha, dan 4.316 C ton/ha (Gambar 5). Konsentrasi tertinggi terdapat pada stasiun 1, yang berada di kawasan mangrove. Tingginya cadangan karbon tanah di lokasi ini diduga berkaitan dengan karakteristik ekosistem mangrove yang mampu mengakumulasi dan menyimpan karbon dalam sedimen melalui pengendapan bahan organik yang tinggi serta kondisi sedimen yang tergenang dan bersifat anaerob, sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih lambat dan karbon dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama.

Gambar 5. Hasil cadangan karbon di setiap stasiun
Temuan ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove berperan penting sebagai penyimpan karbon tanah dalam jangka panjang. Peran tersebut tidak terlepas dari kemampuan sedimen mangrove dalam mengakumulasi bahan organik dalam jumlah besar, serta kondisi sedimen yang tergenang dan miskin oksigen sehingga proses dekomposisi berlangsung lebih lambat.
Cadangan karbon sedimen tidak hanya berbeda antar lokasi, tetapi juga berubah seiring kedalaman tanah. Dari hasil pengukuran, terlihat bahwa semakin dalam lapisan sedimen, semakin besar pula karbon yang tersimpan. Pada kedalaman 0–30 cm, cadangan karbon tercatat sebesar 2.102 C ton/ha, meningkat menjadi 3.066 C ton/ha pada kedalaman 30–50 cm, dan mencapai nilai tertinggi, yaitu 8.671 C ton/ha, pada kedalaman 50–100 cm (Gambar 6).

Gambar 6. Nilai cadangan karbon setiap kedalaman
Tingginya nilai karbon pada kedalaman 50–100 cm berkaitan dengan kandungan bahan organik yang lebih besar pada lapisan sedimen tersebut. Nilai bulk density pada seluruh kedalaman relatif seragam, yaitu berkisar antara 1,25 – 1,26, sehingga perbedaan cadangan karbon tidak dipengaruhi secara signifikan oleh variasi kerapatan sedimen. Lapisan sedimen terdalam cenderung lebih stabil dan minim gangguan. Pada kedalaman ini, sedimen umumnya tergenang dan miskin oksigen, sehingga proses penguraian bahan organik berlangsung sangat lambat. Akibatnya, sisa-sisa bahan organik tidak cepat terurai, tetapi terakumulasi dan tersimpan lebih lama di dalam tanah.
Temuan ini menegaskan bahwa tingginya cadangan karbon pada ekosistem mangrove lebih mencerminkan kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon secara jangka panjang, bukan semata-mata karena laju penyerapan CO₂ yang lebih tinggi dibandingkan tumbuhan darat.
Bagi masyarakat pesisir seperti di Desa Labuhan Bajo, keberadaan mangrove tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dan habitat biota, tetapi juga sebagai penyimpan karbon alami yang berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Upaya menjaga dan mengelola mangrove secara berkelanjutan berarti turut berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal. Menjaga mangrove berarti menjaga masa depan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Alongi, D. M. 2014. Carbon Cycling and Storage in Mangrove Forests. Annual Review Marine Science. 6:195-219.
Donato, D.C., Kauffman, J.B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., & Kanninen, M. (2011). Mangrove forests among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature Geoscience, 4, 293–297.
Howard, J., Hoyt, S., Isensee, K., Pidgeon, E., & Telszewski, M. (2014). Coastal Blue Carbon: Methods for assessing carbon stocks and emissions factors.
Murdiyarso, D., Kauffman, J., et al. (2015). The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation. Nature climate change, 5(12), 1089-1092.
Ningrum, T. D. P., Diana, R., & Rustam, R. (2024). Estimasi stok karbon tanah pada ekosistem mangrove di Muara Badak Ulu dan Salo Palai Kalimantan Timur. ULIN: Jurnal Hutan Tropis, 8(1), 255-262.
Sumarni, G., Nurrahman, Y. A., & Minsas, S. Simpanan Karbon pada Sedimen Mangrove di Kedalaman Berbeda di Desa Jeruju Besar Kalimantan Barat. Jurnal Laut Khatulistiwa, 7(1), 58-65.
